Ragam Arsitektur Unik pada Masjid di Indonesia

Menara ini naik di tempat masjid berada. Mereka disebut menara atau menara dan telah menjadi elemen penting yang sulit dipisahkan dari pembangunan masjid. Tidak mengherankan bahwa menara masjid selalu setia menemani masjid-masjid besar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Bangunan masjid di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai elemen budaya. Tidak hanya Timur Tengah, tetapi juga Cina, Hindu, dan Barat. Ini membuat bentuk menara masjid di Indonesia beragam.

Ragam Arsitektur Unik pada Masjid di Indonesia

Masjid Agung Banten

Masjid ini adalah salah satu yang tertua di Jawa. Masjid yang dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570) berada di sisi alun-alun dan utara istana. Masjid Agung Menara Banten adalah mercusuar dalam bentuk gaya Eropa yang kurang harmonis dengan pembangunan masjid.

Sebelum menara ini berfungsi sebagai menara, menara ini pertama kali berfungsi sebagai menara suar dan pengintaian untuk pelabuhan Banten, yang sering diserang oleh kekuatan Eropa sebagai saingan bagi Belanda. Menara ini dibangun oleh seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel, yang bekerja di kota pelabuhan pada abad ke 17 Masehi

Masjid Agung Demak

Ketika Masjid Agung didirikan oleh Demak pada 1506, ia tidak memiliki menara. Masjid Agung Menara Demak hanya dibangun pada tahun 1934 dalam bentuk bangunan rangka besi yang menopang bangunan batu bagian atas, yang ditutupi oleh kubah kecil berbentuk seperti lemak pendek yang gemuk. Menara ini berada di lokasi terpisah di sebelah gedung masjid.

Masjid Agung Kudus

Masjid di Kota Kudus, Jawa Tengah, dibangun 956 H / 1549 M. Masjid ini terkenal dengan menara yang unik, yang merupakan bagian dari kompleks makam Sunan Kudus. Menara ini pada dasarnya meniru bangunan candi dari era Majapahit, yang terdiri dari kaki-kaki berjenjang dan bangunan tubuh, serta jahitan horizontal sebagai pembatas.

Dinding menara terbuat dari bahan bata. Sementara bagian atas atap berbentuk menara dengan struktur kayu terbalik. Dekorasi lapangan, meski disamarkan, masih terlihat seperti jejak hiasan pada bangunan candi.

Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal adalah salah satu masjid di Indonesia yang menekankan gaya arsitektur Islam modern. Gaya arsitektur modern ini juga dapat dilihat di menara masjid. Bangunan menara, yang digunakan muazin sebagai tempat untuk melafalkan panggilan untuk berdoa sebagai tanda kedatangan doa, diruncingkan ke atas dan memiliki lubang di dinding. Lubang-lubang itu dikatakan mengurangi tekanan dan hembusan angin.

Menara ini setinggi 66,66 meter dan diameter lima meter. Ketinggian menara ini adalah simbol dari jumlah ayat yang terkandung dalam Alquran. Sementara ada panggilan untuk berdoa di atas muazin, ada menara yang terbuat dari stainless steel dengan berat 28 ton dan tinggi 30 meter.

Masjid Agung Medan

Masjid Agung Medan juga termasuk yang menunjukkan bentuk-bentuk arsitektur asing selain bentuk-bentuk tradisional arsitektur Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Makmun ar-Rasyid Perkasa Alam (Sultan Deli, 1873-1924) dan selesai pada tahun 1909. Gaya arsitektur masjid ini meniru gaya bangunan India, Timur Tengah dan Barat.

Misalnya, Menara Masjid Raya Medan, yang terpisah dari bangunan masjid, meniru gaya menara Mesir. Menara ini ditujukan pada bagian atas, yang terdiri dari lantai prisma berbentuk persegi panjang, yang merupakan lantai terluas, bagian tengah tiga lantai, dan bagian atas adalah kubah susun berbentuk kubah.

Selain berbagai jenis dan model menara di atas, ada banyak model menara lainnya. Ada persegi panjang dengan bentuk kerucut di atasnya. Namun, ada juga yang bulat, seperti peluru, meriam moncong, kotak delapan, kotak enam dan sebagainya.